Selasa, 08 Maret 2011

Macam-macam sabar

Menurut Ibnu Qudamah (1997 :343) bahwa sabar itu mempunyai dua gambaran, yaitu :
  1. Sabar yang berkaitan dengan fisik. Contohnya adalah ketabahan memikul beban yang berat dengan badan, melakukan amal-amal yang berat dari berbagai macam ibadah atau lain-lainnya.
  2. Sabar yang berkaitan dengan psikis dalam menghadapi hal-hal yang dimintai tabi’at dan nafsu. Gambaran dalam menghadapi nafsu perut dan nafsu kemaluan disebut iffah (menjaga diri dari hal-hal yang hina). Sabar dalam peperangan disebut syaja’ah (keberanian). Sabar dalam menghadapi kasus yang mengguncangkan disebut sa’atu shadrin (lapang dada). Sabar dalam menyimpan sesuatu kitmanu sirrin (menyembunyikan rahasia). Sabar dalam urusan kelebihan penghidupan disebut zuhud (menahan diri dari keduniaan). Sabar dalam menerima bagian yang sedikit disebut qana’ah (kepuasan).
Sedangkan menurut Al-Ghazali (1975 :292 : 302) bahwa macam-macam sabar terbagai kepada dua hal, yaitu :

1.    Keadaan yang sejalan dengan keinginannya, seperti masalah kesehatan, keselamatan, harta, kedudukan, banyak anak, banyak pengikut dan semua kesenangan dunia. Manusia sangat membutuhkan kesabaran dalam  urusan ini, karena tidak semua berpihak kepadanya dan tidak selamanya dia mendapatkan kenikmatannya. Apabila dia tidak mampu mengontrol dirinya, maka dia bisa terdorong untuk melakukan tindakan sewenang-wenang atau sombong. Sebagaimana Allah Swt memperingatkan hamba-hamba-Nya dari fitnah harta, istri dan anak. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al Munafiqun ayat 9 :

Artinya :
“Wahai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (Depag RIl, 2005 : 555)


2.    Keadaan yang berbeda dengan keinginanya. Hal ini dibagi menjadi tiga macam yaitu :
a.    Berkaitan dengan ketaatan manusia harus sabar dalam hal ini, sebab tabi’at jiwa manusia suka menghindari dari ubudiyah. Manusia harus sabar dalam masalah ketaatannya, yang bisa dibedakan dalam tiga keadaan yaitu : keadaan sebelum ibadah (meluruskan niat, ikhlas), keadaan tatkala melaksanakan ibadah (jangan melalaikan Allah saat ibadah ) dan keadaan seusai ibadah (tidak riya’)
b.    Sabar dalam menghindari kedurhakaan. Manusia sangat memerlukan kesabaran ini. Jika kedurhakaan ini sangat mudah untuk dilakukan, semacam kedurhakaan lidah yang berupa ghibah, dusta, pamer dan lain-lainnya, maka kesabaran dalam hal ini sangat berat. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-muzzammil ayat 10 :


Artinya:
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”(Depag RI,574:574)

3.    Sabar menghadapi sesuatu yang di luar kehendak dan pilihannya, seperti datangnnya musibah yang tak terduga. Seperti kematian orang yang dicintainya, harta benda yang musnah.  Sabar dalam menghadapi keadaan ini merupakan kedudukan yang paling tinggi, karena sandarannya adalah keyakinan Rasullulah SAW bersabda :
عن أبي هريرة  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من يرد الله به خيرا يصب منه
Artinya :
Dari Abu Hurairah ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw “Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, maka dia menimpakan bencana padanya,” (HR. Bukhari dalam Mausu’ah al-hadits al-Syarif v.2.1)

Yang mirip dengan kesabaran ini ialah Sabar menghadapi gangguan orang lain, seperti orang yang menyakiti dengan perkataan, perbuatan atau suatu tindakan kejahatannya terhadap dirinya dan hartanya. Sabar dalam hal ini tanpa harus membalasnya. Sabar dalam menghadapi sikap orang lain yang menyakitkan termasuk tingkatan sabar yang tertinggi. Allah berfirman dalam QS An-Nahl Ayat 126 :
 
       
        Artinya :
...” Akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”(Depag RI,2005:281)
Hadits yang menjelaskan tentang keutamaan sabar, salah satunya yang ditakhrij didalam ash-shahihain, dari Aisyah Radhiyallahu An ha, “Rasulullah

SAW عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مصيبة تصيب المسلم إلا كفر الله بها حيث الشوكة يشاكها
Artinya :
Dari ‘Aisyah ra. berkata: telah bersabda Rasulullah saw “Tidaklah ada musibah yang menimpa orang muslim melainkan Allah menghapus dosanya dengan musibah itu, termasuk pula duri yang menusuknya”. (HR. Bukhari Muslim dalam Mausu’ah al-hadits al-Syarif v.2.1)